vdl1jvhUREXimeotdlAVPOH1KmIdVXgDADlOoIMv
Bookmark

Cerpen Rumah Tangga, peraturan aneh

Untuk Bagian 1 tentang rumah tangga bisa mampir Disini

Sebelum pergi ia berpesan pada pelayan untuk membawakan obat pereda nyeri itu padaku nanti setelah pesanannya datang. Sang pelayan mengangguk paham lalu pergi. Pandangan Tuan konglomerat ini tertuju padaku. Tepatnya dibibir mungil ini. Mau apa dia.

“Ciuman selamat pagi.” Kaget. Tiba-tiba lengan tangannya dilingkarkan dipinggangku.

Tanpa membantah. Segera ku lemparkan dua kecupan dikedua pipi. Agak lama kuciumi sambil ku endus-endus pipi putihnya biar dia tidak marah. Dia akan marah kalau aku menciumnya dengan kurun waktu tidak lebih dari sepuluh detik. Setidaknya, waktu yang ia inginkan untuk ciuman selamat pagi sekitar lima menit-an. Dasar pria banyak maunya.

“Saya pergi. Kamu jaga diri baik-baik. Dan jangan keluar rumah hari ini.”

“Tapi aku harus ke toko hari ini, Tuan Kris.”

“Apa katamu?” Mengerut keningnya mendengar panggilan Tuan ku sematkan.

“Maksudnya. Suaminya aku. Sayangku.”

Senang hatinya kalau ku panggil seperti itu. Hanya suamiku yang berbeda. Percayalah.

“Jangan dulu ke tokomu. Tetap dirumah sampai saya kembali. Paham?”

Ku anggukan saja perkataannya. Tak berani ku membantah karena itu aneh bagi saya. Rasanya ingin sekali tapi, Ah! Aku teringat perkataan sekretaris Harun yang membosankan itu. Menerawang perkataannya.

“Anda punya senjata ampuh, Nona. Yang bisa membuat Tuan Muda tunduk dihadapan Nona.”

Yang belum ku mengerti. Senjata apa itu wahai sekretaris Harun. Dengan rasa penasaran yang ada ku coba mencari tahu senjata apa yang ada padaku hingga mampu membuat Tuan Kris tunduk dihadapanku.

“Tapi suamiku. Aku sangat ingin ke toko hari ini. Ku mohon.”

“Tidak bisa.”

“Mohon.” Ku bergelayut didada bidangnya. Menampilkan raut kekecewaan palsu agar dia luluh.

Mengembuskan napasnya kasar.

“Ya sudah, pergilah. Minta Bella menemanimu dan beberapa bodyguard agar kau aman.”

Ternyata ini senjata yang dimaksud sekretaris Harun. Aku adalah segalanya bagi Tuan Kris. Dia tak kan berani tak memberikan apa yang ku inginkan.

Setelah perginya Tuan Kris ke kantor, aku pun menuju tokoku bersama Bella. Perempuan yang ditugaskan menjadi supir pribadiku. Kenapa bukan laki-laki saja biar bisa jauh lebih aman. Wahai saudara-saudara sepemahan. Tuan Kris tak ingin aku berdekatan dengan pria manapun selain dirinya. Termasuk adik sepupuku sendiri, Rio. Yang jelas-jelas masih memiliki hubungan darah denganku. Ayahnya adalah pamanku. Hanya mereka lah satu-satunya keluarga yang masih ku punya sampai saat ini.

“Bellah habis dari toko, kita ke taman kota sebentar.”

“Baik, Nona.”

Cerpen peraturan aneh

Bella menjawab tanpa menatapku sekali pun. Karena ada peratura aneh dirumah yang ditetapkan beberapa hari yang lalu. Bahwa semua orang yang bukan merupakan anggota keluarga inti Arendra, tidak bisa memandangiku lebih dari tiga detik. Dan itu berlaku untuk semua. Kecuali anggota keluarga inti.

Jujur, aku berasa seperti diriku ini kunti yang ditakuti. Ini semua karena peraturan konyol Tuan muda yang sudah tidak waras itu.

“Anda yang membuat Tuan menjadi tidak waras, Nona.”

Sialan. Lagi-lagi perkataan sekretaris Harun melintas dipikiranku. Kalau tau aku akan dibawah tekanan seperti ini. Lebih baik aku menikah dengan tukang sayur saja sekalian. Biar bisa teriak-teriak bebas. ‘Sayur bu! Sayur!’

Toko sederhanaku yang ku rintis dengan kerja kerasku sendiri lewat penghasilan dari profesi reporterku dulu saat masih bekerja di pertelevisian news XX waktu itu. Sangat indah menikmati hasil kerja keras sendiri.

“Pagi Mbak, Ras.”

Karyawan tokoku. Mereka sudah ku anggap saudara sendiri. Hingga sama sekali tak ada jarak diantara kami.

“Tolong jaga jarak lah dengan, Nona.” Bella berbicara dan merentangkan tangannya didepanku.

Apa-apaan dia ini. Apa salahnya sesama perempuan berinteraksi. Karyawan tokoku pun yang keseluruhannya adalah perempuan menjadi sedikit canggung.

“Maaf Mbak, Ras.” Mereka menjauh beberapa langkah dariku.

“Kalian ini apa-apaan.” Ocehku. “Dan, kau juga Bella. Nggak jelas dan aneh banget tau. Orang kita semua disini perempuan juga.”

“Maaf, Nona. Tapi saya hanya menjalankan tugas sesuai titah Tuan muda. Bahwa, tidak ada yang bisa menyentuh Nona selain Tuan muda.”

Kepalaku ingin pecah dengan semua peraturan konyol ini. Pen jitak pala Bella saking kesalnya. Tidak sekretaris Harun, Bella, sama saja.

Setelah sedikit memantau dan memberikan beberapa oleh-oleh kepada karyawanku, segera ku pergi dari sana. Ku berikan kepercayaan sepenuhnya pada kepala toko. Pergi menuju taman kota menemui Rio.

Sampai ditaman kota aku menemui Rio disana. Dia melambaikan tangan setelah melihatku.

“Kak Rasti. Disini, Kak!” teriaknya.

Ku melangkah mendekati Rio dan langsung memeluknya. Seperti biasa Bella meminta untuk menjaga jarak. Apalagi dia seorang laki-laki. Rio semakin dibuat bingung.

“Udah nggak usah dengerin dia. Kuliahmu gimana?”

Setelah berbincang beberapa menit, Rio pamit. Ada tugas kuliah dadakan katanya. Nanti kalau ada waktu luang dia akan menemuiku lagi.

“Titip salam ke paman.”

“Siap, Kak.”

Aku pulang bersama Bella. Pintu gerbang yang menjulang tinggi terbuka sangat lebar agar mobil yang ku tumpangi bisa masuk. Semua memberi hormat saat aku turun dan mulai berjalan. Dan, tentunya dalam keadaan menunduk. Karena dikekang oleh peraturan konyol tiga detik milik Tuan Kris Arendra.

“Pak Budi.” Ku panggil dengan sopan lelaki paruh baya yang bekerja sebagai kepala pelayan disini.

“Ia, Nona.” sahutnya, menunduk.

Please. Berhentilah memperlakukanku seperti ini. Aku bukan kunti.

“Jen sama Rika udah pulang belum?”

“Belum, Nona.”

Anggukan ku lakukan sesaat setelah mendengar jawaban Pak Budi.

“Apa Nona lapar. Akan saya antarkan makanan dikamar Nona, kalau Nona mau.”

“Tidak perlu Pak Budi. Saya belum lapar. Ya sudah saya ke atas dulu.”

Tak terdengar suara. Hanya anggukan yag tertunduk yang bisa ku lihat.

Dirumah ini selain Jen dan Rika tak ada siapapun lagi. Hanya kami berempat keluarga inti dirumah megah Arandra ini. Ibu Tuan Kris sudah lama tiada semenjak kecelalakaan beruntun yang menimpa pasutri itu. Waktu itu Tuan Kris masih berusia sembilan belas tahun. Ia terpuruk dan jatuh ke lubang hitam.

Tapi, Pak Arka. Sekretaris dari ayah Tuan Kris. Dia yang menyadarkan Tuan Kris untuk bangkit dari keterpurukannya. Dan meminta untuk menjadi presdir selanjutnya dari Tamtarna Group. Semua materi dunia berbisnis dan investasi, asset, saham, semua dipelajari. Pantas saja ia sama sekali tidak tahu tentang wanita. Ia hidup dilingkungan yang berbeda.

Sampainya dikamar, ku dapati banyaknya botol minuman pereda nyeri yang terpajang diatas nakas. Kenapa tidak diborong saja semuanya, Tuan.

Pukul lima sore terdengar suara mobil masuk dari pintu gerbang. Itu Jenny dan Rika. Mereka masuk dengan wajah yang kelelahan. Sepertinya mata kuliah mereka membuat mereka penat.

Tak lama setelah itu mobil satu ikut masuk melewati gerbang. Tuan Kris sudah pulang. Kulihat dari lantai atas Jenny dan Rika kucar kacir masuk ke kamar masing-masing.

“Untung kita pulang lebuh dulu, Kak Jen.”

“Ia, Ri. Cepat masuk sana. Nanti kita kena hukum sama Kakak.”

“Ia”

Begitulah sekilas dialog yang kudengar dari kakak beradik itu. Tuan Kris memang mendidik adik-adiknya dengan keras.

“Kamu sudah minun obatnya, Sayang?” tanya Tuan Kris yang baru saja keluar dari kamar mandi selepas bersih-bersih.

Dia duduk diranjang mendekat ke arahku. Dia tak mengenakan kaos alasan masih mengeringkan sisa-sisa air yang tak ingin lepas dari kulit putihnya. Cih! Dada bidangnya sengaja diperlihatkan padaku. Dia pikir aku akan tergoda.

“Pakai kaus sana, suamiku. Nanti kau masuk angin.” Saranku, memperhatikan dadanya yang bidang. Roti sobeknya juga sengaja diperlihatkan.

“Ilermu netes tuh, Qui. Kenapa mau cium dadaku?”

Cih!

“Silakan saja.”

Tak menggubris. Ku biarkan dia bicara semaunya.

“Cepat cium, Qui.”

Qui nama anehku dari Tuan Kris. Entah dari mana dia mendapatkan nama seaneh itu. Nama kesayangan buat aku katanya. Tiba-tiba Tuan Kris mengepungku di mahkota ranjang.

“Tuntaskan keinganmu itu, Qui. Tidak baik menahannya. Cepat cium saja dibagian mana pun yang kau mau.”

Tuan Kris yang lagi pengen. Tapi, kenapa kesannya aku yang pengen disini. Dasar pria aneh. Dari pada nanti terjadi hal buruk, ku turuti saja kemauannya.

Cup

Cup

“Udah!”

Ku ciumi kedua dadanya. Tapi dia menunjuk bagian-bagian lain lagi. Sialan! Maunya apa sih? Seakan aku yang haus disini.

“Sini.” Tunjuknya didada tengah.

Cup. Kuciumi lagi.

“Disini. Sini dan Sini!”

Persetan!

Cup. Cup. Cup.

Puas!

“Tinggalkan tanda kepemilikan disini.”

Menunjuk bagian lehernya. Dari pada nanti makin rumit, turuti saja pria aneh ini Rasti.

Cup.

Ku ciumi cukup lama dibagian sana. Dan meninggalkan tanda kepemilikan katanya.

Dia tersenyum. “Kau suka?”

Persetan! Aku jijik kalau sudah seperti ini Tuan Kris.

“Ia suamiku. Aku sangat suka.”

“Kalau kau mengiginkannya lagi ciumi saja. Saya tidak akan marah. Hanya Qui ku yang bisa menyentuh bebas diriku. Begitu pun sebaliknya.”

“Hehe. Iya-iya. Seperti apa katamu.”

Ambyar. Dia menerjangku ditengah lampu yang remang-remang. Apa lagi yang dia inginkan.

Persetan! Jangan minta yang aneh-aneh. Aku sedang datang bulan. Memang sudah terhitung lima bulan lebih aku menikah dengannya. Tapi, aku belum menjadi istri seutuhnya untuk Tuan muda. Katanya nanti. Ia tidak ingin terburu-buru. Menikmati masa pacaran dulu katanya. Pacaran setelah nikah.

Posting Komentar

Posting Komentar