vdl1jvhUREXimeotdlAVPOH1KmIdVXgDADlOoIMv
Bookmark

Cerpen Rumah tangga | Cerpen Kehidupan

Cerpen kehidupan rumah tangga ku disuatu hari tiba-tiba Perutku terasa nyeri dari tadi. Ini masih pagi buta. Perlahan ku membuka mata. Bangun dan mengumpulkan nyawa. Kemudian, segera ku ke kamar mandi. Mengecek. Ternyata aku sedang datang bulan. Ku putar kran air dan mulai membersihkannya. Gemercik suara air terdengar. Tak lama suara langkah kaki ikut terdengar mendekati pintu kamar mandi. Tuan Kris Patih Arendra sang penguasa kota XX terbangun. Aku membuatnya bangun.

“Sayang? Kamu sedang apa didalam?” Suaranya terdengar seperti orang yang nyawanya belum terkumpul sepenuhnya

“Aku menstruasi, Sayang. Lagi bersih-bersih.”

Apa itu menstruasi?”

Cerpen kehidupan rumah tangga

Cerita kehidupan rumah tangga ku. Manusia dibelahan dunia mana pun pasti tahu tentang satu hal yang unik dari perempuan ini. Tapi, kenapa suamiku berbeda. Dia, sama sekali tidak tahu apa-apa tentang cairan merah yang setiap bulan akan datang bertamu.

“Tamu bulanan, Sayang!” Tegasku, dari dalam kamar mandi. Susah menjelaskan padanya. Dia sebenarnya sekolah dimana.

“Tamu? Kamu lagi sama siapa didalam? Kok tamunya sampe ke kamar mandi segala. Buka nggak? Atau tidak saya dobrak?!” Nada suaranya naik beberapa oktaf.

“Sayang, tamu bulanan ku itu bukan orang. Tapi PMS.” Masih sabar ku menjelaskan.

“PMS? apa lagi itu? Siapa si PMS itu? Dia laki-laki atau perempuan?”

Spontan ku menepuk dahi tak tahu harus bagaimana menjelaskan kepada suamiku yang sangat tidak tahu tentang wanita. Setelah membersihkan dan memakai pembalut, aku keluar dari dalam kamar mandi. Menatap Kris Patih Arendra dengan nanar.

Setelah aku keluar, lelaki itu langsung masuk kekamar mandi dan mengecek tiap sudut. Mencari tamu bulanan katanya.

“Dimana dia?”

“Siapa, Sayang?”

“PMS!”

“Astaga! Tuan Kris Patih Arendra. Apa dirimu sungguh tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?”

“Kamu ngomong apa? Dimana si PMS itu? Mau ku patahkan tulangnya.”

Hanya bisa geleng-geleng kepala.

Disela mengecek tiap sudut ruang kamar mandi, Tuan Kris mendapati bercak darah menstruasiku yang tersisa sedikit dan tak tertangkap oleh mataku tadi. Bukan disengaja. Aku lalai. Ia menatapku dengan khawatir. Berlari menuju nakas menjangkau ponsel. Sialan. Dia pasti ….

“Chico cepat datang ke rumah saya.”

Chico adalah seorang dokter andalan keluarga Tuan Kris. Sekaligus menjadi adik sepupu jauh suamiku ini. Memalukan. Datang bulan harus bawa-bawa dokter.

Setelah itu dia menelpon sekretaris Harun. Memintanya untuk segera ke kamar sekarang juga. Tak sampai lima menit, sekarang sekretaris menyebalkan itu sudah ada disini. Berdiri dengan posisi menunduk tapi gagah. Jangan sampai dia juga tidak mengerti soal tamu bulanan ku.

“Harun.”

“Ia, Tuan?”

“Apa kau tahu soal tamu bulanan?” Mata Tuan Kris masih saja menetap padaku khawatir. Menyibak rambutku kemudian.

“Pak Hans, Tuan. Dia tamu bulanan perusahaan.”

Konyol! Sama-sama tidak waras sekretaris dan Tuannya.

“Aish! Kenapa jadi bahas Pak Hans. Namanya PMS.”

Wajah sekretaris Harun memerah. Masih menunduk dengan jas dan sepatu mengkilapnya dipagi buta seperti ini. Dia bahkan sudah serapi sekarang.

“Sekretaris Harun. Apakah Tuanmu memang tidak tahu apa-apa soal PMS?”

Tanpa malu aku bertanya. Persetan! Kepalaku sudah pusing dengan suamiku yang berbeda. Hanya datang bulan dia sudah se-khawatir ini. Bagaimana jika suatu saat nanti aku lahiran. Melahirkan anaknya. Bisa-bisa dia memenjarakan anaknya sendiri karena telah menyakitiku.

“Tuan tidak tahu Nona. Dia berbeda dengan kita. Sekolah dan perkuliahannya hanya memfokuskan pada sistem managemen perusahaan. Bisnis berbisnis.Tak ada hal lain.”

Pertemuan tak sengaja

Aku lupa. Pada siapa aku menempatkan keraguan. Dia Tuan Kris Patih Arendra. Konglomerat penguasa hampir seluruh negara XX ini. Bisnis dinegara ini hampir keseluruhan berada dibawah kekuasaan Tamtarna Group. Sementara aku, gadis kelas bawah dengan paras yang pas-pasan yang beruntung bisa menikah dengan Presdir Tamtarna Group.

Berawal dari mewawancarai Presdir Tamtarna Group sebagai reporter pertelevisian XX sampai si Presdir jatuh hati padaku. Entah alasan apa yang membuatnya sampai melabuhkan hatinya pada gadis kumuh seperti ku ini. Hidup sebatang kara dikost-kostan kecil diperkampungan. Dari sekian wanita modis dan cantik dinegara ini, sang presdir justru memilihku. Wanita gembel disudut kota. Bersyukurlah Rasti. Setidaknya, keberuntungan sedang berpihak padamu. Hidupmu bisa jauh lebih layak dari sebelumnya tidak seperti kehidupan rumah tangga ku.

Tak lama para kedua adik ipar datang ke kamarku. Ralat, kamar kami. Berlari. Jenny sangat khawatir. Nampaknya. Sementara Rika langsung menyentuh dahi.

“Kakak ipar sakit yang mananya?” tanya Jenny.

“Ia. Bagian mana yang sakit Kakak ipar?” Rika menimpali.

Napas mereka ngos-ngosan. Setelah mendengar kode zero versi rumah megah Kris Patih Arendra semua jadi kucar kacir. Para Asisten dalam kehidupan rumah tangga yang tak terhitung jumlahnya berapa sibuk melaksanakan titah dari kepala pelayan. Koki sibuk memasak apa saja yang menjadi sarapanku. Bahkan, ada ahli gizi dirumah yang ditugaskan untuk menilai kehigenisan suatu menu makanan yang akan masuk ke perutku. Ini namanya berlebihan.

“Kak Rasti nggak apa-apa adik ipar.”

“Terus kode zero tadi maksudnya apa?”

Kedua remaja yang masih kuliah menyandang status sebagai mahasiswi itu pun terlihat begitu bingung. Kening mereka bertaut hampir menyambung.

“Kakak ipar keluar darah, Jen. Ri.” Sela Tuan Kris ditengah kebingungan mereka.

“Darah, Kak?” tanya mereka, serempak.

“Hem.

Mengalihkan pandangan mereka dari wajah Kris ke wajahku yang pas-pasan ini.

“Tamu bulanan, Ri. Jen.”

Setelah mendengar penuturanku. Wajah Jenny dan Rika berubah datar. Itu wajar. Dan memang seharusnya harus seperti itu. Setelah itu mereka beranjak dan pergi dari sana.

“Kalian mau kemana Jen, Rika? Bukannya jagain Kakak Ipar kalian!”

“Kak Kris. Ini nggak lucu.”

Setelah itu mereka pergi dari sana. Sementara Kris dengan wajah kepolosannya menanggapi Jenny dan Rika. Tidak lama setelah perginya Jenny dan Rika, dokter Chico datang dengan kotak medis andalannya.

Mulai memeriksa.

“Kendalikan tanganmu. Rupanya kau sangat menghayati memeriksa istriku. Aku bisa mematahkan tangannmu itu meski kau kerabatku.”

“Hehe. Astaga Kris. Kamu ini pecemburu. Lagian aku nggak mungkin embat Kakak iparku sendiri.”

“Sembarangan. Kakap ipar … kakak ipar! Dia bukan Kakak iparmu.”

Dokter Chico geleng-geleng kepala.

“Keluhannya apa, Kakak ipar?”

“It—”

Belum ku jawab, Kris Patih Arendra memotong.

“Datang bulan.”

“Ada yang serius?” tanyanya, kemudian. Aku hanya bisa memijat pangkal hidung.

“Kris ayolah. Kakak ipar cuma datang bulan biasa. Astaga!” Memasukkan alat medisnya kembali. Merasa dipermainkan oleh Tuan Kris.

“Gimana-gimana?”

“Kau pindah ke Mars saja sana.”

“Chico! Kurangajar!”

“Aku pergi. Jangan lupa bayaranku 2x lipat.”

“Lho kenapa 2x lipat?”

“Kesini aku hampir kehilangan nyawa karena kode zeromu. Dan keluhannya justru sekonyol ini. Lagian uang sebanyak itu tidak ada nilainya bagimu kan? Sudahlah. Berikan saja.”

Menjelaskan panjang lebar. Kemudian pergi singgah menepuk bahu Harun yang masih setia berdiri disana.

Setelah perginya dokter Chico. Sekretaris Harun juga sudah pergi dari sana menunggu dibawah. Tuan Kris bersiap untuk ke kantor. Aku membantu memasangkan dasi dikerah kemejanya. Menatapku dengan khawatir setelah melihat mimik wajahku yang berusaha menahan nyeri haid yang memang sudah biasa.

“Perutmu sakit, Ras?”

Bodoh! Ini pasti akan menjadi hal konyol lagi. Kenapa aku perlihatkan padanya.

“Nyeri haid.”

“Sakit?”

“Tidak. Hanya nyeri.”

“Sama saja.”

Segera ia menghubungi apotek dan meminta mereka untuk mengantarkan obat pereda nyeri haid dirumah sesegera mungkin! Seperti orang gila. Tidak bisa mendengar aku sakit Tuan Kris langsung frustasi. Sebegitu cintanya.

“Kalau saja nyeri haidmu itu hidup. Sudah saya patahkan lehernya!”

Tuhan. Kenapa suamiku berbeda.

~Cerpen rumah tangga~

Posting Komentar

Posting Komentar