vdl1jvhUREXimeotdlAVPOH1KmIdVXgDADlOoIMv
Bookmark

Cerpen | Dendam dan cinta

Cerpen Dendam dan cinta (ketulusan cintanya)

“Ha… Ha…ha.” Pagi-pagi sekali Arga dibuat terus- menerus terbahak-bahak melihat Vania dengan gaya barunya. Ia urung mengancingkan baju kemeja kerjanya. Penampilan sang istri sangat lucu menurutnya. Membuat Vania menatap kesal.

“Kenapa tertawa?” Sungut Vania kesal.

“Kenapa gaya barumu lucu sekali sayang. Seorang Vania yang feminim dan cantik dan suka dandan tiba-tiba memakai daster tampak make-up sama sekali?” Tanya Arga sembari memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa.

“Emang kenapa dengan bajuku?” Tanya Vania menunduk melihat baju Daster yang dipakainya.

“Kau tampak aneh, sayang,” decak Arga.

“Daster ini? Mama Mutia yang menyuruhku untuk memakainya,” dengus Vania kesal sambil memegang bajunya dengan dua jari lalu melepas nya dengan kasar.

“Iya iya Maaf, Kau tetap cantik kok. Meskipun kayak emak-emak,” ledek Arga yang masih berusaha mengsingkron kan tawanya.

“Ah, sudahlah. Aku akan melepaskannya, aku sudah menduga kau akan mengejekku memakai ini.” ucap Vania semakin kesal. Lalu hendak melangkah kearah lemari.

Namun Arga langsung menariknya ke dadanya yang masih terbuka. Dengan pelukan hangat sembari mengusap rambut wanita yang kini menjadi istrinya.

“Jangan ganti, pakai ini terus jika dirumah ya!” Pintanya kemudian dengan nada yang lembut dan tulus.

Vania pun mendongak menatap wajah suaminya.

“Jak, apa nanti kalau aku sudah melahirkan dan gemuk tidak terurus Kakak tidak akan meninggalkanku?” Tanya Vania serius.

“Bicara apa kamu,” Memegang kedua sisi kepala Vania dan menatap dalam. ” bukankah aku sudah pernah bilang dulu. Bagaimana pun dirimu tidak ada yang berubah dengan cintaku,” ujar Arga kembali mengingatkan saat Vania masih sering bertengkar denganya dulu.

“Iya, tapi kan tidak menjamin Kakak akan berubah nanti,” Tilas Vania memasang wajah mu cemberut.

Cup!
 
Sebuah kecupan mendarat dipipi Vania
“Tidak akan, aku janji,” lirihnya.
“Oya jangan banyak pikiran, aku tidak mau kamu dan anak kita kenapa-napa nanti,” pinta Arga sembari mengelus perut Vania.

Vania mengangguk mengerti akan pesan sang suami yang selalu mengkhawatirkannya. Lalu meraih kancing baju Arga dan memasangkannya satu persatu. Ia juga memakaikan jas dan dasi di kerah baju Arga.

“Kak, Vania berharap Kakak jangan marah lama-lama ya sama Papa dan Mama,” ucapnya kemudian Arga yang mendengar ucapan itu pun langsung memasang wajah malas.

Antara cinta dan dendam

“Kita bahas Itu nanti, ya sayang. Aku pergi dulu, o ya jangan pergi tampa seizin dariku!” Pesannya kemudian.

“Vania kembali hanya mengangguk dan terdiam menatap Arga yang langsung berlalu meninggalkannya.

Tiba dimeja makan!

“Arga ayo makan dulu!” Ajak Kakek yang melihat Arga datang. Arga berhenti sejenak lalu memandang Mutia dan Dana dengan tatapan sinis.

“Aku sarapan di kantor saja Kek,” jawab Arga singkat. Ia pergi tampa menyalami mereka sama sekali.

Hotel Arga Gautama!!!

“Vin, dimana orang-orang itu?” Tanya Arga pada Vino.

“Ada diluar Bos, mereka baru tiba. Biar aku panggil,” jawab Vino. Ia pun langsung keluar.

Beberapa saat kemudian Ia kembali dengan tiga orang yang ada di vidio itu.

“Ini Bos, orangnya,” Tukasnya kemudian.

Arga pun menatap ketiganya satu persatu Dan melangkah mendekat.

“Aku tidak akan menuntut kalian, jika kalian bersedia mengklarifikasi kebenaranya,” tukas Arga menatap dingin.

“Iya Pak, kami bersedia. Kami sudah mendapat hukuman dari pak Vino,” jawab pria itu.

“Lalu siapa kedua wanita ini? apa mereka memang istrimu atau wanita bayaran?” Tanya Arga serius.

“Bukan Pak, kami murni dibayar dengan jumlah uang yang besar hingga kami benar -benat melakukan adegan itu,” jawab Wanita berambut pendek yang mengaku sebagai istri ayahnya dalam vidio itu.

“Apa kalian tidak punya keluarga? Hingga berbuat mes*m seperti itu?” Tanya Arga mendesak menatap wanita berambut panjang yang satunya lagi.

“Punya Pak, tapi kami butuh uang,” jawab wanita itu. Mereka menunduk ketakutan.

” baiklah sekarang ayo ikut aku! Kalian harus mengakui perbuatan kalian di media sosial!” Ajak Arga. Lalu melangkah lebih dulu.

“Ayo sana!” Perintah Vino memaksa mereka yang masih terdiam.

Mereka pun melangkah mengikuti Arga masuk kesebuah ruangan. Disana sudah banyak awak media yang menunggu.

Arga dan ketiga orang itu pun ikut duduk ditempat yang sudah disediakan.

“Oke, kali ini saya akan mengklarifikasi kebenaran perihal vidio mes*m yang beredar di Hotel Arga Gautama. Saya tidak ingin berlarut-larut membiarkan ke salah pahaman terjadi di hotel yang saya bangun sendiri sejak nol,” tukas Arga memulai berbicara.

“Pak, apa benar ini cuma hanya perbuatan orang yang ingin merusak hotel Arga Gautama?” Tanya seorang reporter.

“Silahkan tanya pada mereka bertiga!” Ucapnya mempersilahkan.

“Mbak, Novi benar Mbak dan Mas Alfian ini pelakon di vidio yang viral itu?” Tanya wartawan memulai pertanyaan.

Bingung antara harus dendam tetapi masih cinta

Keduanya pun menunduk sambil melempar pandang.

“Iya,” jawab keduanya bersamaan.

“Tapi kenapa kalian mencemarkan nama baik hotel Arga Gautama ?”

“Kami dibayar mahal, oleh orang yang kami tidak boleh sebutkan namanya,” jawab Alfian dengan gemetar.

“Lalu adegan itu bukan editan, kan?”

“Bu…. kan, kami melakukanya dengan sungguhan,” jawab Novi gugup.

“Kenapa bisa begitu?”

“Karena kamu memang bekerja seperti itu,” jawab Novi.

“Apa kalian berdua tidak punya keluarga?”

“Punya, Ibuku sakit keras dan harus dioperasi. Sedangkan Alfian mandul dia melampiaskan semuanya dengan bekerja seperti itu,” jawab Novi.

“Benar itu Mas?”

“Be… benar, saya kesal istri saya meninggalkan saya dengan lelaki lain karena saya mandul. Hingga kebiasaan buruk ini saya jadikan hobi,” ulas Alfian sembari berlinang air mata.

Deg!

Bayangan Arga kembali mengingat wajah Adiyaksa yang balas dendam atas kejadian itu. Wajahnya langsung berubah kesal dengan Dana dan Mutia.

“Lalu bagaimana dengan Mbak Kalista?” Tanya reporter lagi.

“Sa… saya hanya orang biasa, Mbak?”

“Tapi kenapa mau mengerjakan dan melihat adegan ini?”

“Sama seperti mereka, ini soal materi,” jawab Kalista.

“Apa kalian benar-benar tidak mau mengatakan siapa dalangnya?”

“Tidak, itu akan menjadi urusanku dengan mereka,” sahut Arga tegas atas pertanyaan reporter yang hendak menguak lebih dalam itu.. Lalu beringsut meninggalkan mereka.

Ia sudah tenang, yang penting nama hotel Arga Gautama kembali bersih dan akan berjaya lagi.

Posting Komentar

Posting Komentar