vdl1jvhUREXimeotdlAVPOH1KmIdVXgDADlOoIMv
Bookmark

Memburu Cinta Psikopat | Cerpen

Di sebuah rumah, terlihat Revan sedang berada di sebuah ruangan sambil memasang sebuah foto pria tua yang seperti psikopat seperti ada kekecawaan dalam urusan cinta. dengan tangan yang belumuran darah.
Revan tampak sangat bahagia.

Tok … tok … tok ….
“Tunggu sebentar!” teriak Revan dari dalam rumahnya.

Di balik pintu rumah Revan yang tertutup, terlihat Felisha sedang mengipas-ngipas lehernya menggunakan tangannya sendiri.
“Haduh, di sini panes banget,” keluh Felisha sambil melihat ke kanan dan ke kiri.

Cerpen cinta, memburu Cinta Psikopat

Ceklek.
Akhirnya pintu rumah Revan terbuka.
“Lo siapa?” tanya Revan bingung.
“Gue anak dari temen tante lo,” jawab Felisha.
“Hah? tante?”

Felisha mengangguk-angguk.
“Tapi kan ….” Perkataan Revan terpotong.
“Btw, boleh nggak gue masuk? Soalnya panes banget nih di luar.”

Revan mengangguk pasrah.
Di ruang tamu, Felisha langsung duduk dan menyalakan kipas angin tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada tuan rumahnya.
“Aah, ini baru dingin. Oh, iya. Di sini ada berapa kamar?”
“2,” jawab Revan singkat.
“Oh. Lo tinggal sendiri di sini?” Felisha basa-basi.
“Iya.”
“Hachu ….” Felisha bersin.

Revan langsung menutup hidung dan mulutnya memakai telapak tangannya.
“Eh, hehehe. Maaf.”

Revan mengangguk sambil tersenyum sedikit dengan mata yang ke samping.
Felisha terus saja bersin.
“Haduh, di sini banyak banget debunya,” kata Felisha sambil menggosok-gosok hidungnya.
“Masa, sih?”
“Iya.” Felisha langsung menunjukkan debu yang berada di jari telunjuknya. “Nih. Coba lo lihat.”
“Oh, iya.”
“Udahlah dari pada banyak basa-basi, mendingan lo ambilin gue sapu, lap pel, ember yang berisi air dan lap kecil,” suruh Felisha.
“Lho. Buat apa coba?” tanya Revan kesal karena di suruh.
“Ambil aja sana.” Felisha memasang wajah seramnya.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Revan yang sedang berada di kamar tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan Felisha yang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Ceklek!
“Astaga.” Revan yang tadinya melihat ke layar ponselnya langsung melihat ke arah pintu dengan mata melotot.
“Eh, hehehe,” kata Felisha sambil cengir kuda, “Maaf. Oh, iya. Rev, gue mau pergi ke rumah temen gue dulu ya,” pamit Felisha.

Revan mengangguk-angguk.
“Semoga aja nggak balik-balik,” kata Revan dengan suara yang sengaja dikecilkan.
“Lo ada ngomong sesuatu?”
“Eh, nggak kok.”
Felisha pun langsung pergi.

Tak terasa hari pun semakin larut.
Felisha yang sudah berada di depan pintu rumah Revan langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tiba-tiba ketika Felisha masuk, dia malah melihat lantai rumah itu berlumuran darah.

Itulah cerpen cinta tentang memburu cinta, nantikan cerpen selanjutnya pada artikel berikutnya, terimaksih

Posting Komentar

Posting Komentar