vdl1jvhUREXimeotdlAVPOH1KmIdVXgDADlOoIMv
Bookmark

Cerpen | Jangan Keluar Malam

JANGAN KELUAR MALAM | Cerita Pendek (Cerpen)

“Mas, aku mau keluar dulu ya. Kebetulan sabun cuci habis. Aku kan mau nyuci pakaian bayi yang kemarin dikirim Ibu dari kota,” ucapku pada Mas Yandi yang tengah fokus dengan ponselnya.

Ia menoleh sebentar ke arahku, kemudian kembali terpaku pada ponsel dan game nya lagi. “Jangan, Sayang. Kamu kan lagi hamil besar. Besok aja ya?”

Aku mendengkus sebal, “Beberapa hari ini Bu Salamah buka malam, Bang. Anaknya di kampung sebelah habis lahiran. Ini tuh baru jam delapan malam. Kenapa sih? Banyak orang ngopi.”

Mas Yandi berdehem, “Beneran enggak apa-apa?” tanyanya memastikan.

Sebenarnya aku juga malas, tapi mau bagaimana lagi? Di kampung ini hanya ada satu warung yaitu milik Bu Salamah.

“Mas mau antarin aku?” tanyaku sebal. Dih! Masa pakai acara nanya segala?
“Nanggung, Sayang.”
“Yaudah, nggak usah,” sahutku ketus.
“Yang penting Mas sudah ingatkan, ya!”

Aku pun segera ke depan untuk mengeluarkan motor milik almarhumah bapak mertua. Malas rasanya jika harus memakai sepeda, apalagi kondisi kehamilanku yang sudah mendekati HPL.

Kulajukan motor pelan. Jalanan desa yang masih kerikil putih, membuat motor atau sepeda rawan tergelincir. Apalagi kondisi jalanan yang sedikit becek usai hujan Maghrib tadi.

Pendar lampu di pinggir jalan, sedikit membuat jalan tampak terang. Apalagi jika malam hari, rumah-rumah warga sebagian sudah tertutup dan gelap.

Selama tinggal di desa Mas Yandi, baru kali ini aku keluar malam semenjak hamil. Tanpa sadar, emosiku tadi sebenarnya merugikan diriku sendiri karena warung Bu Salamah terletak luamyan jauh, melewati makam desa dan perkebunan pisang milik Pak RT.

Sayup-sayup, angin berembus pelan dari berbagai arah, sesekali membuatku bergidik.

Jantungku berdebar saat hendak melewati makam yang berdampingan dengan perkebunan pisang. Hanya ada satu lampu yang menyala di depan gerbang makam, itu pun redup, kadang mati dan menyala sendiri.

Kulajukan motor sedikit kencang agar segera sampai di warung Bu Salamah.

Krieeet.

Sontak aku mengerem motor saat mendengar pintu makam yang berderit kencang seperti dihantam sesuatu. Konon, akan ada orang meninggal jika pintu ini berderit.

Tiba-tiba saja mesin motorku mati.

Huft! Sial. Bagaimana bisa tepat di depan makam?

Aku pun berusaha menstarter kembali motorku. Sial lagi, starternya bermasalah.

Baiklah, sabar Anya!

Aku pun turun dan menuntun motorku ke arah depan, meninggalkan makam. Samar, tercium aroma bunga melati menusuk indera penciuman. Pandanganku memindai sekitar. Tak ada siapapun di sini. Tengkukku terasa meremang. Beberapa kali kuusap lengan yang terasa dingin.

Semilir angin kembali menggoyangkan beberapa pohon di sekitar makam.

“Mbaaak.”

Deg!

Posting Komentar

Posting Komentar